Selasa, 28 Januari 2014

Night Ironman :)

Selamat malam Ironmanku…
Masih samakah seperti kala itu?
Hobimu yang menjadikan malam sebagai duniamu?
 Aku merindukanmu Ironman Merindukanmu yang slalu menemaniku kala mataku tak dapat terpejam karena cerita sendu guraumu…
Merindukan pesta tawa atas tingkah lakumu…


Rindu...


Hai sudah lama kita tak lagi bertegur sapa seperti kala itu
seperti awal mula perkenalan kita, selalu ada sapa di setiap waktu, bahkan kadang kamu meminta embel-embel di setiap akhir percakapan.
Ahhh saat ini semua itu sudah menjadi kenangan yang harus ku simpan rapat2 di tumpukan masalalu.
Tapi rasanya aku tak bisa, entah belum bisa, atau mungkin takan bisa..
Masih bicara rindu...
Aku merindukanmu, tak sedikitpun hatiku luput dari denyut perih karena kehilanganmu
kamu tinggal terlalu sebentar, pergi terlalu cepat...
seperti rahasia illahi lainnya yang tak benar-benar ku mengerti
kadang aku bertanya-tanya mengapa sang Illahi memberi waktu sedikit untuk kita?
tapi aku tak menyesalinya karena sejak awalpun tak pernah berusaha menghindari kebersamaan kita
Aku akan merindukanmu, dan aku tahu sejak lama perasaan ini telah menyiksaku
tapi tak apa, sungguh tak mengapa, sakitnya masih bisa ku tahan, tak seberapa ketimbang aku harus melupakanmu.
Entah aku terlalu naif untuk mendefinisikan ini cinta
karena kenyataannya dalam mencintaimu banyak luka yang aku rasakan
seperti menikam diri sendiri tanpa rasa sakit menjerit
ku telan pedih ini karena mencintaimu yang telah meninggalkan sepaham lara
Kamu acuhkan aku, tinggalkan aku saat kata setia ku jaga di atas pengharapan, tapi tiada inginku akhiri jejak cintaku selain pada mu..
Semoga kelak sapamu akan selalu terucap, entah itu akan terwujud atau hanya sepenggal harapan yang takan terisi.

Senin, 27 Januari 2014

Apakah sanggup?

Apakah ini saatnya untuk membunuh perasaanku? Melepaskan segala rindu yang mengendap menjadi debu berterbangan, bersatu bersama langit yang membentang. Apakah aku mampu? Sementara perasaan ini telah menjelma layaknya prasasti yang membatu. Hidup disegala adaku. Dalam diam, jarak, bahkan luka. Betapa susah memahami arti dirimu. Betapa sulit menyelami maunya hati mu. Jalan membentang bertabur kasih yang ku gelar, tak juga membuatmu bergeming. Segala adaku telah ku buka untuk mu tanpa tirai sehelaipun. Jika aku memang harus membunuh perasaan ini, izinkan aku untuk tetap mengenangmu. Tidak juga karena apa, cinta sejati tak di bunuhpun ia akan bunuh diri. Dia akan tetap mengalir di setiap alunan nada kasih yang menggema dalam sukma. Izinkan aku tetap mencintaimu, walau hanya dalam diam dan senyap. Hingga suratan takdir membukakan rahasia kalamnya. Mungkin dengan cara itu, aku bisa tetap mencintaimu. Walau mungkin tak pernah nyata juga akhirnya.

Good Night Ironman :)

The great expectation for a brief smile of relief and sound sleef… do not become real. There is always intriguing reality cradling inside the anxiety Good night…

        

                                                             

Sebuah pengharapan pada sang ilahi


Ya Allah, wahai dzat yang memegang rahasia segala sesuatu... Jadikanlah aku ridha terhadap apa-apa yang Engkau tetapkan dan jadikan berkah apa-apa yang Engkau takdirkan, sehingga tak ingin ku menyegerakan apa-apa yang masih Engkau tunda, atau menunda apa-apa yang Engkau segerakan. Ya Allah yang memegang hikmah atas segala sesuatau, andai Engkau berkehendak lain, sesungguhnya sebenar-benar kehidupan adalah kehidupan akhirat maka jadikanlah kehendak Mu bukan kehendak ku. Sesungguhnya aku tidak mengetahuai, sedangkan Engkau Maha Mengetahui. Tkadirkanlah kebaikan bagiku dimanapun adanya, dan jadikanlah hatiku meridhainya. Ya Allah, aku sungguh mencintainya Amin…

Minggu, 26 Januari 2014

Jangan berakhir


Jangan berakhir. Karena risalah rindu ini masih terus mengais ceritamu. Tak peduli jeratan waktu memaksaku bergemeretak mengejar matahari. Jangan berakhir. Karena aku akan menunggu hadirmu, kapan pun itu. Jangan berakhir karena aku telah memilihmu sejak tatap pertama tumpah di satu senja. Dan sampai kini aku makin terjerat dalam penantian yang menyerang, meregang, mengerontang, kemudian terpanggang bara api yang setia ku nyalakan dan tak ingin ku padamkan.
Bukan aku tidak tahu atau pura-pura tidak tahu terhadap apa yang akan ku temui dalam penantian ini. Tapi aku masih tetap nyaman dalam kobaran api cinta ini.